Di bagian timur Kompleks candi Dieng terdapat dua Telaga yang indah, yaitu Telaga Warna dan Telaga pengilon. Di sekitarnya terdapat gua-gua alam yang sering digunakan sebagai tempat nyepi atau semedi. Beberapa di antaranya tertutup dan dijaga oleh seorang guru kunci, seperti antara lain Goa Semar, Goa Sumur dan Goa Jaran. Tempat menarik lainnya adalah Batu Semar (karena bentuknya mirip Semar) atau Batu Tulis (karena di sana pernah ditemukan batu bertulis tentang peninggalan Hindu di daerah Dieng). Ada juga pemandian Dewi Nawangwulan dan pura di atas bukit (masih dalam proses perencanaan).

Telaga-telaga yang berada di daerah Dieng terbentuk dari kawah vulkanik yang tidak aktif lagi. Air yang ada berasal dari mata air atau air hujan yang terkumpul. Pada beberapa bagian Telaga masih dapat kita lihat adanya aktivitas vulkanik di bawah permukaan air.

Selain hutan cagar alam, ada beberapa jenis hewan yang dilindungi, antara lain burung khususnya burung Belibis. Beberapa jenis hewan buas yang juga dilindungi saat ini sudah jarang ditemui.

Daerah cagar alam ini, bagian timur laut dibatasi pegunungan dan desa Jojogan, bagian timur ke arah selatan dibatasi pegunungan Kendil, dan bagian barat dibatasi oleh jalan dan Dieng Plateau.

Di atas Gunung Kendil dibangun cungkup (pendopo kecil) yang pada hari-hari tertentu banyak dikunjungi para peziarah. Menurut cerita rakyat setempat, tempat cungkup itu dibangun dahulu adalah tempat persemayaman salah seorang kyai yang bernama Kyai Kolodete. Kyai tersebut bersama dua orang temannya, Kyai Karim, dan Kyai Walik diyakini sebagai pendiri kota Wonosobo.

Kalau kita naik ke atas bukit, akan tampak pemandangan yang sangat indah. Telaga Warna dan telaga pengilon, dengan latar belakang dua buah gunung besar. Gunung Sindoro (sundara) 3151 m, dan pasangannya, yaitu gunung Sumbing (suwing) puncaknya mirip bibir sumbing 3371 m. Kedua Gunung ini merupakan suami-istri (sumbing dan sundara/sindoro) dan mereka memiliki anak yang cantik yaitu gunung Kembang Bunga 2200 m yang berdiri di sebelah ibunya.

Pada bagian bawah lereng bukit dan dekat dengan tepian Telaga Warna, ada sebuah kawah, namanya kawah Sikendang karena dari lubang kawah yang relatif kecil itu mengeluarkan suara seperti kendang, Itulah sebabnya disebut kawah Sikendang