Dieng Plateau atau dataran tinggi Dieng berada pada ketinggian 2093 mdpl, terletak di antara dua daerah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Pemandangannya sangat indah dan sejak dahulu sudah menjadi pusat perkembangan kebudayaan di Indonesia.

Betapa indah dan cantiknya Dieng Plateau karena disamping gunung-gunung, ditemui juga berbagai ragam pesona alam, sejarah, serta kebudayaan, antara lain:
1. Iklim yang sejuk dan udara yang segar
2. Kebudayaan (peninggalan sejarah berupa candi candi)
3. Gua gua alam
4. Kawah gunung berapi
5. Telaga
6. Mata air
7. Aneka flora yang tumbuh, dll.

Itu semua dapat kita nikmati di dalam suatu areal yang luasnya 350 ha. Situs Dieng sendiri luasnya 90 h a meliputi komplek Dwarawati, Komplek Arjuna, dan Komplek Bima (berdasarkan SK Gubernur Hindia Belanda no. 33 tgl. 6 September 1937)

Nama Dieng berasal dari kata diyang atau dihyang’ artinya tempat Hyang/Dewa yang sendiri artinya “arwah leluhur”. sama artinya dengan tempat para dewa yang bagaikan Nirwana.

Kawrat ing seratan Tcanggal Sang Prabu Sanjaya ngandikaaken pepunden Civa kang linuwih endahe, punika karsanipun boten sanes inggih namung ing Diyeng. Mekaten ugi kawrat ing serat undang bab siti mardikan ing Prambanan Sang Prabu Daksa ngantos kaping tiga anggenipun menyebataken; gunung wingit padewatan Civa.

(Tercatat pada prasasti Tcanggal, Prabu Sanjaya menyebutkan pemujaan Dewa Siwa yang terindah, tidak lain letaknya hanya di Dieng. Juga catatan undang-undang bab tanah negara di Prambanan, sang prabu Daksa Sampai tiga kali menyebutkan; gunung yang menyimpan misteri tempat Dewa Civa).

Dataran tinggi Dieng sering diliputi oleh kabut. Gumpalan gumpalan awan putih melingkari gunung gunung di dataran tinggi bagaikan selendang yang melilit leher seorang gadis cantik. Hampir setiap tahun antara bulan Juli dan Agustus terjadi hujan es. Orang di daerah tersebut menyebutnya Bun Upas, (Bun=embun, Upas=racun). Disebut demikian, karena hujan es tersebut merusak atau melayukan tanaman pertanian. Temperatur pada saat itu biasanya berkisar antara -2°C sampai -3°C.

Pada masa kerajaan Majapahit dalam kitab Tantu Panggelaran disebutkan gunung dihyang sebagai tempat Dewa Ciwa pada masa masa berikutnya, cerita tentang Dihyang tidak terdengar lagi dan baru pada permulaan abad ke-19 diadakan penelitian untuk mengungkap misteri tentang candi-candi Dieng. Namun, hingga saat ini pun banyak hal yang belum dapat diungkapkan.