Berdiri gagah, layaknya ksatria yang baru saja menang dalam sebuah pertempuran, berbentuk persegi empat dengan ukuran 4,55 m x 4,55 m Candi ini merupakan yang terbesar dan termegah di antara candi-candi yang ada di daerah Dieng.

Dibangun sekitar akhir abad 9 Masehi, di bagian badan candi terdapat pahatan berbentuk kelopak motif bunga lotus/teratai. Jika dilihat makin ke atas, di bagian Puncak keempat sudutnya terdapat bentuk lotus utuh dan lengkap dengan dasar bunga, atau disebut juga Padmasana . Ciri yang lain, di atas pintu masuk ada Kala yang tanpa dagu, dan di bagian belakang ada Makara yang bergambar ular.

Seperti diketahui, biasanya lotus/bunga teratai identik dengan buddhisme. Dengan demikian, Candi Bima Ini kemungkinan besar telah dimasuki pengaruh buddhisme. Terlebih lagi Mengingat bahwa Candi ini dibangun dalam periode yang sama dengan Candi Borobudur yang merupakan candi Budha. Bisa kita sebut dan ditimbang merupakan perpaduan antara Hindu dan Budha.

Di bagian luar badan Candi Akan kita temukan relung-relung yang di dalamnya terdapat patung kepala dan setengah badan yang disebut Kudhu. Kepala patung ini merupakan profil raja-raja, dan ada pula yang berukuran besar. Sedangkan profil Makaranya mirip dengan bentuk kepala sang Bima. Sekarang patung Kudhu tersebut disimpan di museum Jakarta.

Candi Bima ini terletak agak terpisah dari kelompok Candi kecil yang lain yaitu di bagian selatan. Posisi candi menghadap ke timur. Pada bagian dalam candi kita temui adanya lubang-lubang di dinding yang berbentuk kotak, diperkirakan dahulu dipergunakan untuk tempat sesaji. Sedangkan kalau kita amati bagian dinding dalam makin ke atas, yang merupakan langit-langit atap candi, bentuknya berupa kerucut yang bersap/bertingkat. Makin keatas makin mengecil/meruncing, dan sap-sao candi tersebut tersusun rapi tanpa semen sebanyak 27 sap!

Itulah arsitektur kuno peninggalan nenek moyang kita. Walaupun usianya sudah lebih dari 1000 tahun, namun hingga saat ini masih dalam kondisi yang cukup baik.